Total Pageviews

Thursday, November 22, 2012

sang setengah baya

waktu itu, saya masih duduk di semester 3 sebuah universitas swasta di Jogja.

suatu ketika, ayah sedang ada tugas di jogja, sehingga beliau meminta drivernya untuk menjemput saya di kampus. oh iya, hari itu adalah hari jumat. sembari menunggu driver solat jumat, saya pergi membeli lutis di depan kampus.

terasa sekali sengatan matahari menerpa kulit hingga ubun-ubun, panas. angin yang datang silih berganti hanya menambah kekeringan udara di siang hari itu. well, dimata manusia seperti saya sepertinya apa yang Tuhan berikan hari itu semuanya salah.. *maaf ya Allah

ketika kembali ke kampus, ternyata driver ayah sudah menunggu. rupanya cukup lama saya meninggalkan dia setelah jumatan. sebelum masuk ke dalam mobil, mata saya terpaku melihat sosok setengah baya sedang memunguti sesuatu yang letaknya ada di dalam kampus. rasa penasaran yang bergejolak mengalahkan keegoisan saya siang itu. dengan ragu saya dekati beliau. seorang wanita separuh baya terlihat sedang asyik memunguti sampah di bak sampah. tak peduli sengatan hebat matahari dan hembusan kering sang angin, dia tetap khusyuk mengambili apa yang menjadi rezekinya hari itu.

sebuah pemandangan yang ironis bukan? ketika saya dengan mudahnya membelanjakan harta yang saya punya, ternyata di depan mata saya tergolek seorang wanita setengah baya yang sedang memperjuangkan hidupnya. manusia macam apa saya ini?!

lagi-lagi rasa kemanusiaan saya berunding dengan nurani saya. otak dan logika saya pun ikut beradu argumen. keegoisan saya tak mau kalah. ia terus saja meminta saya meninggalkan sang wanita itu.

setelah bermusyawarah cukup lama, tak terasa tangan saya merogoh saku dalam celana jeans warna abu-abu yang saya kenakan. ada beberapa lembar uang disana. warna merah muda, hijau juga oranye.

saya mengambil sekenanya, kemudian saya berikan langsung kepada wanita itu. terbayang apa yang ia katakan?

"matur nuwun nggih den, mugi - mugi tansah piwales kaliyan Gusti Allah"
"nggih sami - sami mbah"

saya takjub. wanita itu masih mengingat Allah dalam hidupnya. ia masih terus bersyukur, walaupun keadaannya dimata saya sungguh sangat kekurangan. mungkin Tuhan benar, Ia selalu memberikan kelebihan dalam setiap kelemahan manusia. dan kelebihan wanita separuh baya itu adalah bersyukur.

malu. saya sangat malu. sebagai seorang generasi muda, terlalu banyak keluhan yang saya hujamkan kepada Tuhan. ironis sekali bukan?

kembali lagi, sepertinya saya harus menyediakan cermin didepan wajah saya setiap hari dan bertuliskan
"sudahkah anda bersyukur hari ini?"


No comments:

Post a Comment